Senin, 19 Mei 2008

MEMANFAATKAN WAKTU DENGAN TEPAT MENCEGAH PENYESALAN

Things which matter most must never be at the mercy of things which matter least. – Sesuatu yang paling penting tidak akan pernah sama nilainya dengan sesuatu yang tidak terlalu penting.”
~ Goethe

Kita semua diberi anugrah oleh Tuhan YME berupa waktu yang sudah ditentukan lama dan tidaknya. Jatah waktu yang kita miliki tak dapat ditambah atau dikurangi. Tetapi yang menjadi persoalan bukan lama atau tidaknya kesempatan waktu yang kita miliki, melainkan seberapa pandai kita menggunakan waktu tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain dan alam semesta.

Waktu adalah anugrah yang sangat berharga, jauh lebih bernilai dibandingkan materi sebesar apa pun. Demikian pentingnya waktu yang tak lain adalah nasib dan kehidupan kita sendiri. Bila kita menyia-nyiakan waktu, sama seperti kita mematikan masa depan dan membunuh diri kita secara perlahan. Oleh sebab itu manfaatkanlah waktu hanya untuk tujuan-tujuan yang positif.

Sudah banyak contoh orang-orang yang hanya dapat menyesali masa tua karena sebelumnya tidak menggunakan waktu untuk tujuan-tujuan yang positif. Berdasarkan survei (tahun 2006) terhadap warga Belgia yang berusia di atas 60 tahun diperoleh informasi bahwa hampir semua manula tersebut menyesali telah mengabaikan masa muda mereka. Berdasarkan persentase dapat kita lihat:

• 72 % - menyesal karena kurang bekerja keras sewaktu masih muda.
• 67 % - menyesal karena salah memilih profesi atau karier.
• 63 % - menyesal karena kurang waktu mendidik anak mereka atau menggunakan pola didik yang salah.
• 58% - menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan.
• 11% - menyesal karena tidak memiliki cukup uang.

Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi sebuah panti jompo di Surabaya yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Kami datang untuk sekedar berbagi dengan manula tunawisma tersebut. Terbersit iba sekaligus tanda tanya besar, “Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan di masa muda dulu. Mengapa mereka tidak mempersiapkan masa tua?”

Bagi kami, keadaan mereka menjadi peringatan bahwa waktu tidak dapat diputar mundur. Bila kita sudah renta dan tak berdaya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan. Maka kita harus mempersiapkan segalanya sedari sekarang, selama kita masih sehat dan memiliki banyak kesempatan dan waktu.

Seperti diketahui bahwa manusia terdiri dari unsur materi dan rohani dengan komposisi yang seimbang. Maka kita harus dapat membagi waktu secara proporsional untuk memenuhi kodrat kita yang terdiri dari kedua unsur tersebut. Berikut ini beberapa aktivitas penting yang harus kita lakukan dalam menggapai keseimbangan tersebut.


Yang pertama adalah aktivitas mengurusi keluarga, mencari nafkah, dan berprestasi dalam kehidupan. Untuk mencapai keberhasilan yang kita harapkan maka kita harus mempunyai target. Bila kita sudah menetapkan target dan berkomitmen untuk mencapainya, dengan sendirinya kita akan dapat menempatkan prioritas pekerjaan dengan baik.

Semua itu memang memerlukan pengorbanan, di antaranya kerja keras, mencurahkan pikiran dan lain sebagainya. Tetapi bila kita menjalankannya dengan sepenuh hati dan raga, fokus dan penuh kedisiplinan, maka kita akan dapat mencapai yang terbaik sesuai dengan standar waktu yang sudah kita tetapkan.

Aktivitas kedua yang mesti kita lakukan adalah mengisi waktu dengan belajar. Kita dapat belajar dari berbagai hal, misalnya dari buku, pengalaman pribadi, seminar, kaset, ataupun dari orang-orang yang sudah berhasil. Kita harus tekun belajar, karena proses pembelajaran akan senantiasa mengurangi kesalahan dan memperbaiki langkah kita selanjutnya. Mengisi waktu dengan belajar sama halnya merenungi kebesaran kekuasaan Tuhan YME, dan menjadikan diri kita lebih rendah hati.

Selain itu kita juga harus menyediakan waktu untuk introspeksi atau mengaca diri. Pada saat itulah kita akan menyadari segala kekurangan dan memperbaiki semua itu dengan meningkatkan keahlian, pengetahuan dan memperbaiki sikap maupun kualitas keimanan terhadap Tuhan YME. Melakukan introspeksi diri mencegah kita melakukan kesalahan besar, yang mungkin tak dapat kita perbaiki lagi.

Beribadah adalah saat yang paling dekat antara kita dengan Tuhan YME. Bila kita meluangkan waktu secara disiplin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME, maka kita akan mendapatkan kedamaian spiritual yang hakiki. Dari aktivitas tersebut kita akan senantiasa mendapatkan energi dan semangat maha dahsyat untuk melaksanakan aktivitas lainnya dengan lebih baik melalui cara yang lebih inspiratif dan positif.

Dengan memanfaatkan waktu untuk melakukan ke-4 aktivitas tersebut secara proporsional akan berdampak positif terhadap kehidupan kita, yaitu memberi kesuksesan, kekayaan, kebahagiaan sekaligus kedamaian spiritual. Bila kita dapat memanajemen ke-4 aktivitas tersebut dengan baik, niscaya akan ada banyak hal yang dapat kita lakukan dan menjadikan kehidupan kita lebih berarti. Jika tak ingin didera penyesalan tak berguna di kemudian, jangan pernah menunda melakukannya sejak detik ini.[aho]

* Andrew Ho adalah seorang motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku best seller.



Rabu, 14 Mei 2008

Buah Ketakwaan

Ketakwaan sejati menjamin banyak buah yang dapat dipetik oleh orang yang membekali dirinya dengannya. Bahkan setiap orang yang ingin sukses, harus memiliki bekal ketakwaan yang sejati, dan takwa itu merupakan bekal yang terbaik (QS. Al-Baqoroh: 197). Berikut ini adalah beberapa buah takwa;

Jaminan solusi dari segala problema dan pintu rizki yang melimpah dan tak terduga.

Allah Swt. berfirman; “barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti memberinya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka”. (QS. At-Talaq: 2-3)

Kemudahan dalam segala urusan.

Allah Swt. berfirman; “ barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti memberikan kemudahan dalam segala urusannya”. (QS. At-Talaq: 4)

Jaminan pertolongan, kebersamaan dan dukungan dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman; “dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqoroh : 194)

Jaminan keberkahan dari langit dan bumi.

Allah Swt. berfirman; “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka pintu segala keberkahan dari langit dan bumi”. (QS. Al-A’raf: 96)

Jaminan keamanan dan penjagaan dari segala tipu muslihat dan kejahatan musuh.

Allah Swt. berfirman; “Jika kalian bersabar dan bertakwa maka makar dan tipu muslihat mereka tidak akan membahayakan kalian sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi atas segala yang mereka kerjakan”. (QS. Ali Imron: 120)

Jaminan perlindungan Allah Swt. bagi keturunan dan anak cucu.

Allah Swt. berfirman; “dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka takut akan (kesejahteraan mereka). Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang benar. (QS. An-nisa’: 9)

Penyebab diterimanya amal perbuatan, yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah Swt. berfirman; “sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah: 27)

Jaminan selamat dan lindungan dari azab dunia.

Allah Swt. berfirman; “dan Kami Menyelamatkan orang-orang yang beriman lagi bertakwa”. (QS. Fussilat : 18)

Penyebab terhapusnya dosa-dosa kecil dan memperbesar pahala.

Allah Swt. berfirman; “barang siapa bertakwa kepada Allah, Maka Dia pasti menghapus dosa-dosanya dan memperbesar pahala baginya”. (QS. At-Talaq : 5)

Warisan surga dan derajat yang tinggi di dalamnya.

Allah Swt. berfirman; “itulah surga yang diwariskan bagi hamba-hamba Kami yang bertakwa”. (QS. Maryam: 63)

Jaminan persahabatan sejati dan kekal.

Allah Swt. berfirman; “para kekasih pada hari itu (hari kiamat), antara sesama mereka berubah menjadi musuh, kecuali orang-orang yang bertakwa (yang tetap terjalin hubungan kasihnya”. (QS. Az-Zukhruf: 67)

Demikianlah beberapa buah takwa, tidakkah anda ingin memetiknya ?

sumber :Ibnu Kuhafah, Lc

Silaturahim

Silaturahim memiliki nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dari Allah swt, seperti yang dijelaskanNya dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Abdur-Rahman bin auf dari Rasulullah saw bersabda: "Allah swt berfirman: "Aku adalah Allah, Aku ar-Rahman, Aku ciptakan ar-rahim, dari kata itu berasal salah satu namaKu. Barangsiapa yang menyambung rahim itu (silaturahim) maka Aku akan menyambungnya, tetapi siapa yang memutuskan rahim itu (silaturahim) maka Aku akan memutuskannya" (HR Abu Daud dan Tirmizi, hadits hasan).

Dari satu riwayat wahyu ini saja sudah cukup untuk menegaskan nilai dan kedudukan silaturahim, karena ternyata silaturahim terambil dari salah satu asma' dan sifat Allah ar-Rahman. Hal itu sekaligus menunujukkan bahwa silaturahim efektif dan terencana akan memunculkan rasa kasih dan saying, yang pada gilirannya mewujudkan kesatuan hati dan kesamaan langkah-langkah dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuju masyarakat dan bangsa sejahtera.

Lebih jauh lagi silaturahim sebenarnya merupakan kewajiban agama, bahkan memutuskan hubungan silaturahim bisa jatuh kepada dosa besar, karena banyak pesan-pesan wahyu yang bernuansa ancaman dan peringatan keras terhadap orang-orang yang memutuskan hubungan silaturahim.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya, sampai selesai penciptaanNya itu, Rahim berdiri seraya berkata: "Ini adalah tempat orang yang berlindung dari memutuskan (silaturahim)". Dia (Allah) berfirman: "Ya, bukankah kau rela jika Aku menyambung orang yang menyambungmu (silaturahim), dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu wahai Rahim". Rahim berkata: "Ya aku rela itu". Allah pun berifrman lagi: "Itu adalah hakmu". Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Jika kalian berkehendak bacalah ayat (QS Muhammad: 22): "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim". (H.R. Bukhari Muslim).

Bentuk-bentuk silaturahim banyak sekali, yang pada intinya semua aktifitas yang membuat hubungan kita dengan orang lain intim dan harmonis, dan juga mampu menghilangkan kebencian dan permusuhan satu sama lain.

Bentuk-bentuk tersebut antara lain: menyantuni, membantu, menanyakan keadaannya, saling berkunjung, memaafkan kesalahan dan kekhilafan, mengingatkan, menerima dan memberi nasehat, menyenangkan hati, memenuhi permintaannya, meringankan kesulitannya dll.

Bentuk-bentuk tersebut jika dilakukan secara terencana dan efektif, artinya silaturahim itu dilakukan dengan niat dan tekad serta motivasi bersih, juga dilakukan dengan cara terprogram dengan baik, sehingga tidak terkesan emosional. Hal ini penting karena silaturahim merupakan syariat Islam yang mesti direalisasi dengan ihsan (baik), agar memberikan dampak dan hasil yang baik pula.

Dengan silaturahim diharapkan perolehan keberkahan dalam rizki dan umur dalam ketaatan. Silaturahim menumbuhkan kasih saying antar sesame, karena dengan silaturahim perkenalan terjalin, saling tukar pikiran , tukar pengetahuan dan pengalaman, saling menasehati dan mengingatkan, membantu saat kesulitan dst. Akhirnya silaturahim yang efektif dan kontinyu akan melahirkan kesatuan yang dimulai dengan kesatuan hati, kesatuan pemikiran, sehingga mewujud kesatuan sikap dan kerja-kerja konstruktif dan produktif.

Hati adalah panglima bagi anggota badan lainnya yang siap memposisikan sebagai prajurit melakukan sesuai dengan perintah panglima. Hati adalah sumber gerak dan motivasi. Seperti yang diisyaratkan Rasulullah saw dalam sabdanya: "Ketahuilah dalam jasad adalah segumpal daging, jika ia baik maka akan baik pula seluruh anggota badan, tetapi jika segumpal daging itu rusak maka seluruhnya akan menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah KALBU".

Karenanya, hasil positif dari syariat silaturahim sangat tergantung pada kebersihan hati, kejernihan kalbu, ketulusan niat para pelaku syariat ini. Karenanya pula Rasululllah saw mengaitkan perintah silaturahim dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir dalam sebuah haditsnya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hormati tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hubungkan silaturahim. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam" (HR. Bukhari Muslim).

Yakinlah, bahwa Allah swt tidak pernah dan tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang menjalankan syariatNya dengan benar dan baik serta tepat, secara ikhlas dan hanya mengharap ridhoNya. Selamat beramal, semoga.