Silaturahim memiliki nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dari Allah swt, seperti yang dijelaskanNya dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Abdur-Rahman bin auf dari Rasulullah saw bersabda: "Allah swt berfirman: "Aku adalah Allah, Aku ar-Rahman, Aku ciptakan ar-rahim, dari kata itu berasal salah satu namaKu. Barangsiapa yang menyambung rahim itu (silaturahim) maka Aku akan menyambungnya, tetapi siapa yang memutuskan rahim itu (silaturahim) maka Aku akan memutuskannya" (HR Abu Daud dan Tirmizi, hadits hasan).
Dari satu riwayat wahyu ini saja sudah cukup untuk menegaskan nilai dan kedudukan silaturahim, karena ternyata silaturahim terambil dari salah satu asma' dan sifat Allah ar-Rahman. Hal itu sekaligus menunujukkan bahwa silaturahim efektif dan terencana akan memunculkan rasa kasih dan saying, yang pada gilirannya mewujudkan kesatuan hati dan kesamaan langkah-langkah dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuju masyarakat dan bangsa sejahtera.
Lebih jauh lagi silaturahim sebenarnya merupakan kewajiban agama, bahkan memutuskan hubungan silaturahim bisa jatuh kepada dosa besar, karena banyak pesan-pesan wahyu yang bernuansa ancaman dan peringatan keras terhadap orang-orang yang memutuskan hubungan silaturahim.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya, sampai selesai penciptaanNya itu, Rahim berdiri seraya berkata: "Ini adalah tempat orang yang berlindung dari memutuskan (silaturahim)". Dia (Allah) berfirman: "Ya, bukankah kau rela jika Aku menyambung orang yang menyambungmu (silaturahim), dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu wahai Rahim". Rahim berkata: "Ya aku rela itu". Allah pun berifrman lagi: "Itu adalah hakmu". Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Jika kalian berkehendak bacalah ayat (QS Muhammad: 22): "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim". (H.R. Bukhari Muslim).
Bentuk-bentuk tersebut antara lain: menyantuni, membantu, menanyakan keadaannya, saling berkunjung, memaafkan kesalahan dan kekhilafan, mengingatkan, menerima dan memberi nasehat, menyenangkan hati, memenuhi permintaannya, meringankan kesulitannya dll.
Bentuk-bentuk tersebut jika dilakukan secara terencana dan efektif, artinya silaturahim itu dilakukan dengan niat dan tekad serta motivasi bersih, juga dilakukan dengan cara terprogram dengan baik, sehingga tidak terkesan emosional. Hal ini penting karena silaturahim merupakan syariat Islam yang mesti direalisasi dengan ihsan (baik), agar memberikan dampak dan hasil yang baik pula.
Dengan silaturahim diharapkan perolehan keberkahan dalam rizki dan umur dalam ketaatan. Silaturahim menumbuhkan kasih saying antar sesame, karena dengan silaturahim perkenalan terjalin, saling tukar pikiran , tukar pengetahuan dan pengalaman, saling menasehati dan mengingatkan, membantu saat kesulitan dst. Akhirnya silaturahim yang efektif dan kontinyu akan melahirkan kesatuan yang dimulai dengan kesatuan hati, kesatuan pemikiran, sehingga mewujud kesatuan sikap dan kerja-kerja konstruktif dan produktif.
Hati adalah panglima bagi anggota badan lainnya yang siap memposisikan sebagai prajurit melakukan sesuai dengan perintah panglima. Hati adalah sumber gerak dan motivasi. Seperti yang diisyaratkan Rasulullah saw dalam sabdanya: "Ketahuilah dalam jasad adalah segumpal daging, jika ia baik maka akan baik pula seluruh anggota badan, tetapi jika segumpal daging itu rusak maka seluruhnya akan menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah KALBU".
Karenanya, hasil positif dari syariat silaturahim sangat tergantung pada kebersihan hati, kejernihan kalbu, ketulusan niat para pelaku syariat ini. Karenanya pula Rasululllah saw mengaitkan perintah silaturahim dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir dalam sebuah haditsnya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hormati tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hubungkan silaturahim. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam" (HR. Bukhari Muslim).
Yakinlah, bahwa Allah swt tidak pernah dan tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang menjalankan syariatNya dengan benar dan baik serta tepat, secara ikhlas dan hanya mengharap ridhoNya. Selamat beramal, semoga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar